Dalam Bhajan ini disebutkan Ganesha dengan julikan Ekadanta yang berarti Ganesha bergading satu. Kenapa satu?

Setidaknya ada dua versi cerita yang mengabarkan ini

 

Versi 1. Menurut cerita dalam Upodghata Pada dalam Brahmanda Purana, Parshuram, avatar keenam Wisnu, pergi untuk berterima kasih kepada Dewa Siwa karena memberkatinya dengan kekuatan untuk melawan musuhnya, Kartavirya Arjuna dan beberapa raja lainnya.

 

Namun, Dewa Ganesha tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan Dewa Siwa, mengklaim bahwa ayahnya sedang sibuk, dan Dia tidak ingin Parshuram mengganggunya. Hal ini membuat Parshuram marah dan Dia mulai berkelahi dengan Ganesha.

 

Ketika Ganesha sepertinya akan menang, Parshuram melemparkan kapaknya ke Ganesha. Ganesha, bagaimanapun, tidak melawan karena kapak itu adalah hadiah dari ayahnya, Dewa Siwa.

 

Dia membiarkan kapak itu mengenainya dan Dia menerimanya dengan gading kirinya yang terpotong dan jatuh ke tanah.

 

Versi 2: Kisah yang termasuk dalam Mahabharata adalah bahwa Ganesha mematahkan gadingnya sendiri untuk melanjutkan menulis Mahabharata seperti yang diperintahkan Vyasa kepadanya. Maharishi Veda Vyasa ingin menuliskan Mahabharata, tetapi dia tahu bahwa dia tidak akan mampu melakukan ini sendirian. Jadi dia mendekati Dewa Ganesha untuk membantunya menulisnya.

 

Ganesha setuju dengan satu syarat bahwa Dia hanya akan menulis jika Maharishi Veda Vyasa akan membacanya dengan cepat dan terus menerus tanpa berhenti di antaranya. Maharishi Veda Vyasa menyetujuinya tetapi memiliki syarat- bahwa Ganesha harus memahami segalanya sebelum menuliskannya sehingga Maharishi dapat beristirahat di sela-sela pembacaan.

 

Diyakini bahwa ketika  Ganesha sedang menulis, penanya mulai habis dan karena Dia telah menyatakan bahwa Dia tidak akan berhenti, Dia mengeluarkan gading kirinya dan menggunakannya untuk menyelesaikan penulisan epos Mahabharata yang agung. Itu sebabnya Dewa Ganesha juga disebut Ekadantaya.**

 

Mengawali bulan ini semoga kita selalu dalam berkat Sai Ganesha, Ekadanta memberkati kesusksesan dan perlindungan. Mari menyanyikanNya : Sundara Mukha Shri Gajanana

 

Perwujudan kasih! Kisah Rama bukanlah cerita yang lampau. Kisah ini adalah kekal dan selalu baru. Kisah ini penuh dengan kesucian. Ketika engkau memusatkan pikiran pada Rama secara terus menerus, engkau akan mendapatkan suka cita dan kebahagiaan yang sungguh besar! Ramayana mengajarkan prinsip-prinsip dari kebajikan (dharma) dan jalan kewajiban kepada setiap individu. (Divine Discourse, Apr 11, 2003)

Oleh karenya mari menyanyikan manisnya Nama Rama setiap saat yang akan memberi kita kebahagian. Mari menyanyikanNya : Raghuveera Ranadheera
 

 

Sepotong mysorepak (manisan India terbuat dari tepung) memiliki rasa manis, berat, dan bentuk; ketiga kualitas itu tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Setiap bagian kecil dari manisan tersebut memiliki rasa manis, berat, dan bentuk. Kita tidak menemukan ada bentuk dalam satu bagian, berat di bagian yang lain dan rasa manis pada bagian berikutnya. Ketika manisan itu ditaruh di atas lidah, rasa manisan dapat dirasakan, beratnya akan menyusut dan bentuk akan berubah – semuanya pada saat bersamaan. 

Begitu juga, jiwa setiap individu, Atma dan Tuhan yang tertinggi ( Parameshwara ) tidaklah terpisahkan; ketiganya adalah satu dan sama. Sama halnya setiap perbuatan individu, semua aktifitas dalam hidup harus penuh dengan semangat pelayanan yang tidak mementingkan diri sendiri (seva), kasih Tuhan (prema), dan kebijaksanaan spiritual (jnana).

Ini adalah sesungguhnya yoga yang tertinggi (Purushothama-yoga). Hal ini harus dijalankan dalam perbuatan, tidak hanya dikatakan dalam kata-kata saja. Disiplin spiritual harus terus dijalankan dengan hati yang terus berkembang penuh dengan bhakti dan kebijaksanaan spiritual. - Prema Vahini, Ch 9

Kemuliaan bagi Tuhan Tertinggi (Parameshwara) yang membimbing kita dalam jalan spiritual bersama Bhagawan mari menyanyikan kemuliaanNya : Shivaya Parameshwara
 

 

Muralidhara dalam bhajan Krishna ini berarti Beliau (Krishna) yang emegang seruling. Apa makna dari Seruling? Bhagawan bersabda: 

Kalian semua telah mendengar bahwa Sri Krishna adalah Murali-Madhava (Dewa dengan seruling). Dan apa sebenarnya makna seruling? Engkau harus menjadi seruling. Biarlah nafas Sri Krishna melewatimu, membuat musik yang menyenangkan yang melelehkan hati. Pasrahkan dirimu kepada-Nya; menjadi hampa, tanpa ego, dan tanpa keinginan. Kemudian, Dia sendirilah yang akan datang dan menjemputmu dan menempatkanmu, seruling tersebut, ke bibir-Nya dan meniupkan napas-Nya yang manis melalui engkau. Izinkan Beliau memainkan lagu apa pun yang Beliau suka. Biarkan pikiranmu memikirkan Sri Krishna. Sucikan setiap kata dan perbuatan dengan mengisinya dengan cinta-kasih Sri Krishna atau nama dan bentuk apa pun yang engkau berikan kepada Tuhan yang engkau kasihi. (Divine Discourse, Sep 06, 1963)

Semoga kitab isa menjadi seruling yang layak di tanganNya, mari menyanyikan kemuliaan Krishna Sang Pemegang Seruling : Muralidhara Murahara
 

 

Daya Karo Sai Maa dalam Bhajan Dewi ini artinya Ibu yang penuh weles asih, Swami bersabda:

Hatimu adalah pusat dari perasaan yang suci. Hati diliputi dengan welas asih. Adalah welas asih yang memunculkan perasaan yang suci. Engkau harus mengembangkan welas asih, menyebarkan lentera kasih dan meningkatkan perasaan keilahian. Tanpa menjalankan hal ini, bagaimana engkau dapat mengharapkan waktu untuk memberikanmu kebahagiaan? Jika engkau mengharapkan hasil yang baik, engkau harus meningkatkan perasaan yang baik. Dengan hati yang suci, kemantapan dalam pikiran, dan tindakan tanpa mementingkan diri sendiri, engkau dapat menjadi penerima karunia Tuhan, yang mana akan menghilangkan berapapun jumlah penderitaan dalam sekejap. 

Oleh karena itu selalulah membedakan dan melakukan tindakan yang akan memberikan karunia Tuhan, yang mana sebagai balasannya akan memberkatimu dengan kedamaian dan kebahagiaan! (Divine Discourse, Jan 1, 2001)

Semoga kita semua diliputi weles asih dari Ibu Sai: Dewi Sai Maa

 

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba , Kidung suci dalam bahasa Telugu: 

“Paduka tidak dapat dilukiskan dan tidak dapat dipahami. Bahkan Brahma pun tidak mampu memperkirakan kebesaran dan kemuliaan Paduka. Selama ini kami selalu menanti karunia Paduka. Oh Yang Mahakuasa, dengarkan ( ratap ) kesengsaraan kami dan selamatkan kami. Padukalah yang menghidupkan kembali putra guru Paduka yang sudah meninggal, Padukalah yang menaklukkan naga Kaaliya, membebaskan Vasudeva serta Devakii, dan menyelamatkan Draupadii dari penghinaan. Paduka memenuhi keinginan Kuchela, Paduka membuat Kubjaa yang buruk rupa menjadi jelita. Paduka melindungi kelima Paandava dan melindungi 16.000 goopiikaa. Paduka tidak dapat dilukiskan dan manusia tidak mampu memahami Paduka.”

Kemulian bagi Krishna pelindung Pandawa, Gopika dan kita semua, mari menyanyikan: Krishna Krishna Govinda Krishna