19. Hari Ini adalah Milik Sādhaka, tetapi Besok ?


     Yama, dewa kematian, ada dimana-mana seperti halnya Śiva! Yama hanya berhubungan dengan badan; ia tidak dapat mempengaruhi jiwa. Tuhan berhubungan dengan jiwa, tetapi Ia tidak akan mengizinkan badan hidup terus. Badan adalah alat yang penting bagi jiwa untuk memahami kenyataannya yang sejati. Meskipun demikian, siapa yang tahu bilakah badan itu akan menjadi sasaran perhatian Yama, dewa kematian yang mempunyai kuasa atas tubuh manusia? Siapa yang tahu bilakah badanmu akan terjerat dalam lilitan tali Yama? Kalian masing-masing yang dibebani dengan badan yang mudah binasa ini, perhatikanlah peringatan tersebut. Setiap saat engkau harus berhasrat untuk menunggal dengan Tuhan, kapan pun, saat itu juga! Detik-detik yang telah berlalu tidak dapat dipanggil kembali. Biasanya orang suka menunda pekerjaan. Hal yang harus dilakukan hari ini, dikerjakannya besok dan hal yang seharusnya diselesaikan kemarin,   baru   dikerjakannya   hari   ini.   Tetapi   tugasmu untuk melakukan latihan spiritual tidak demikian halnya. Untuk sādhanā tidak ada kemarin atau besok. Sekaranglah waktunya! Menit yang telah berlalu tidak dapat kauperoleh kembali, demikian pula menit yang akan datang bukan milikmu! Hanya orang yang telah menanamkan pengertian ini dalam hatinya akan dapat menunggal dengan Tuhan. Tetapi kebanyakan orang tidak memahami kebenaran ini. Mereka  sibuk  dengan  berbagai  kegiatan  untuk  sekarang dan kelak, berlandaskan pada anggapan bahwa badan itu penting. Karena itu, mereka meletakkan landasan untuk ikatan duniawi. Akibatnya, mereka harus lahir kembali berulang-ulang dan terus menerus mendapat darshan Dewa Kematian! Tetapi mereka yang tekun melakukan latihan spiritual berhak mendapat darshan Tuhan. Mereka tidak menginginkan dan bahkan tidak memikirkan apa pun juga selain Tuhan. Sesungguhnya hanya mereka yang mempunyai hubungan tetap antara badan dan jiwanya dapat disebut manusia. Mereka yang telah menginsafi prinsip ini tidak akan bimbang atau kendor sedikit pun dalam melakukan sādhanā mereka.

     Meskipun demikian, sekarang manusia puas melihat dan menikmati kesenangan dunia yang cepat berlalu. Hal ini dilakukannya tanpa henti. Malam hari dihabiskannya untuk tidur dan siangnya untuk makan minum. Demikianlah ia tumbuh dewasa hingga kemudian di masa tua, maut mengejarnya. Pada waktu itu ia tidak dapat menentukan akan pergi ke mana atau harus melakukan apa. Semua indranya telah melemah; tidak seorang pun, bahkan tidak ada satu hal pun yang dapat menyelamatkannya. Maka hidupnya pun berakhir sebagai mangsa yang tidak berdaya dalam cengkeraman maut!

     Betapa tragisnya bila kehidupan manusia yang tidak terhingga nilainya ini, sangat berharga bagaikan berlian yang tidak ternilai, direndahkan dan tidak dihargai bagaikan uang logam yang usang! Tidak ada gunanya menyesal, bila engkau telah membuang-buang waktu tanpa guna, tanpa bermeditasi kepada Tuhan atau melakukan sādhanā untuk menyadari- Nya. Apa gunanya merencanakan membuat sumur bila rumah telah terbakar? Kapankah sumur itu akan digali? Bilakah airnya timbul? Bilakah apinya akan dipadamkan? Semuanya mustahil! Bila sejak semula sumurnya telah dibuat, alangkah besar gunanya pada saat yang genting semacam itu! Mulai merenungkan Tuhan pada saat yang terakhir adalah seperti mulai menggali sumur ketika api sudah berkobar. Karena itu, bila mulai sekarang engkau menyiapkan diri dengan menggunakan sebagian waktumu untuk merenungkan Tuhan, hal itu akan berguna sekali pada saat ajal menjelang. Mulailah hari ini juga sādhanā yang akan kaulakukan besok! Mulailah sekarang sādhanā yang akan kaulakukan hari ini! Engkau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padamu sedetik lagi. Karena itu, mulailah melakukan sādhanā yang sangat penting itu, jangan ditunda lagi. Daya tahan badan juga perlu untuk melakukan sādhāna baik, walau engkau harus ingat bahwa pemanjaan badan akan membawa akibat yang buruk. Seberapa jauh diperlukan, rawatlah badanmu dengan hati-hati.