TINGKATKAN KESEJAHTERAAN SEGALA MAKHLUK


Orang yang melakukan meditasi beranggapan bahwa realisasi kebahagiaan ātma adalah penting, tetapi perkembangan kesejahteraan dunia pun merupakan tujuan yang sama pentingnya. Untuk mencapai tujuan itu, ia harus mengendalikan kecenderungan-kecenderungan fisik, verbal, dan mentalnya. Hal ini biasanya dikenal sebagai sepuluh macam dosa: tiga berkenaan dengan perbuatan badan, empat berkenaan dengan perkataan, dan tiga lagi berkenaan dengan kecenderungan mental. Kecenderungan badan adalah: (1) merugikan, melukai atau merusak kehidupan, (2) keinginan untuk berzina, dan (3) mencuri. Dosa yang  berhubungan dengan perkataan adalah: (1) memberi tanda bahaya yang tidak benar, (2) perkataan yang kejam, (3) pembicaraan yang timbul karena iri hati, dan (4) bohong. Dosa yang berhubungan dengan sikap mental adalah: (1) ketamakan, (2) iri hati, dan (3) pengingkaran akan adanya Tuhan.


Jauhkan Dirimu dari Sepuluh Macam ‘Dosa’

Orang yang ingin menjalankan meditasi harus sangat berhati-hati agar kesepuluh musuh ini bahkan tidak mendekatinya. Mereka harus dihindari sama sekali. Peminat kehidupan rohani   memerlukan    kecenderungan-kecenderungan yang akan menolongnya untuk maju dan bukannya kecenderungan-kecenderungan yang akan menariknya mundur. Ia harus berbicara dan bertindak hanya yang baik (śubham), karena hanya yang baiklah yang menguntungkan (maṅgala), dan hanya yang menguntungkan sajalah Śiva`kebahagiaan dan keberuntungan’. Hal ini juga dikatakan oleh berbagai kitab suci (Śāstra). Yang baik adalah bertuah atau membawa keselamatan serta harapan baik dan itu adalah yang berguna secara rohani. Bila manusia hendak lebur dalam Śiva, kebaikan adalah alatnya.

Melalui kebaikan, orang yang bermeditasi dapat mencapai dunia ini dan dunia lainnya; ia dapat memajukan kesejahteraannya maupun kesejahteraan orang lain. Kesejahteraan adalah buah pengetahuan; kesengsaraan adalah buah kebodohan. Melalui kesejahteraan sajalah, maka kedamaian, sukacita, dan kemajuan dapat dicapai. Kewajiban dasar manusia adalah kesejahteraaan segala makhluk! Memajukannya, menyokongnya, adalah tugasnya yang tepat. Melewatkan masa hidup seseorang dalam pelaksanaan tugas ini merupakan jalan yang ditakdirkan.


Jangan Terpengaruh oleh Maya

Budi (buddhi) kita adalah saksi yang menyaksikan segala sesuatu dalam dunia objektif ini. Hal-hal yang bersifat duniawi ini membatasi dan mewarnai budi, memengaruhi dan membentuknya menjadi kesadaran (caitanya). Maya hanyalah budi yang dipengaruhi oleh segala sesuatu, dibengkokkan dan diputarbalikkan oleh kesan-kesan  segala sesuatu. Karena itu, kesadaran spiritual yang tidak terpengaruh oleh maya, yang tidak dapat dipengaruhi oleh kesan-kesan dunia, kesadaran itu adalah Tuhan (Īśvara).

Karena itu, orang yang berjuang untuk mencapai tingkat Tuhan harus tidak terpengaruh oleh maya, tidak terkesan oleh dunia! Bagaimana caranya agar tidak terpengaruh? Dengan analisis, dengan menguraikannya menurut akal, dengan penyelidikan yang berani, dan pemikiran yang murni. Agar memperoleh pemikiran analitis (viveka) ini, peminat kehidupan rohani perlu ikut serta dalam tugas-tugas untuk memajukan kesejahteraan setiap makhluk di dunia.


Pertama, Sifat-Sifat Baik; kemudian, Tidak Adanya Sifat

Pertunjukan yang fana (jagat) ini didasarkan pada maya.  Itulah sebabnya mengapa dicap sebagai palsu. Tetapi  jangan mengambil kesimpulan bahwa sekadar pengakuan akan kepalsuan dunia atau kesadaran akan kekurangan- kekurangan tertentu dalam diri sendiri akan membimbing manusia menuju ke jalan yang lebih tinggi dan membawanya pada kebenaran tertinggi. Bila manusia tidak mempunyai tabiat yang baik, penuh dengan keutamaan yang luhur, ia tidak akan pernah mencapai kemajuan dalam bidang rohani. Kemajuan tergantung pada nilai dan kualitas atau sifat- sifat baik seseorang, sebagaimana halnya panen tergantung pada kesuburan ladang. Di atas sebidang tanah yang baik, taburkan benih-benih berkualitas tinggi, dan airilah dengan air pemikiran serta analisis; kemudian panen yang berlimpah akan siap pada waktunya! Di tanah yang tidak ditanami dan diolah dengan benih-benih yang baik kualitasnya, maka rumput-rumput yang tidak berguna akan tumbuh berlipat ganda; dan tempat yang seharusnya dapat dibentuk menjadi kebun yang rapi akhirnya menjadi hutan semak berduri yang membingungkan dan tidak dapat dilalui.

Walaupun ada orang yang karena tersesat atau takabur, sejauh ini tidak mengembangkan sifat-sifat yang baik, setidak- tidaknya ia dapat mencoba atau berusaha memperolehnya! Bila hal ini tidak dilakukan, ia tidak dapat mengecap keunggulan hidup; hidupnya sia-sia saja, tidak ada nilainya sama sekali. Akibat kekuatan-kekuatan yang bertentangan ini, maka pikiran atau rasa hati seseorang sesat dalam nilai- nilai yang salah dan tidak dapat berkembang pada jalan yang benar. Pikiran, perasaan, dan ingatan semacam itu, menyimpang dari kebaikan, dapat menyebabkan kejahatan yang tak terlukiskan. Segala kemajuan yang telah dicapai peminat kehidupan rohani (sādhaka) dapat dilenyapkan oleh pikiran semacam itu pada saat sedang lalai, seperti percikan api yang karena lengah sedikit saja, jatuh di atas tong berisi bahan peledak!

Ada beberapa orang yang berusaha agar tidak mempunyai sifat apa pun, tetapi mereka hanya mencapai kehidupan yang mati. Wajah mereka yang pucat hanya memperlihatkan kurangnya semangat dan minat. Ini diakibatkan oleh ketergesa-gesaan yang tidak masuk akal dalam disiplin kerohanian. Meskipun akhirnya diperlukan untuk menjadi tanpa sifat, tujuan tidak boleh dicapai dengan tergesa-gesa. Seseorang mungkin punya semangat bergelora, tetapi usaha agar tidak mempunyai sifat apa pun juga sering hanya membawa mereka pada keadaan sulit yang menyebabkan banyak orang mengakhirinya dengan bunuh diri! Pertama-tama kita harus mengumpulkan kekayaan watak yang baik. Karena tidak memperlihatkan minat untuk memperoleh keutamaan ini, banyak peminat kehidupan rohani yang gagah berani tersesat dan tidak menemukan kembali (jalan yang benar) walau telah berusaha bertahun- tahun lamanya! Lainnya tergelincir jatuh ke dalam rawa yang mereka seberangi!

Karena itu, jalan untuk ‘mencapai keadaan tanpa sifat’ penuh dengan bahaya. Manusia tidak dapat hidup tanpa kegiatan, maka tidak dapat tidak ia harus bertindak dengan sifat-sifat yang baik. Manusia harus memadamkan segala keinginan dan menjadi bebas. Pikiran dan perasaan yang  penuh keutamaan akan berguna dalam proses ini karena ia akan menanggapi kemujuran orang lain dengan gembira. Ia tidak akan merugikan atau menyakiti (makhluk lain); ia akan mencari kesempatan untuk menolong,  menyembuhkan, dan memelihara. Ia tidak hanya sabar hati, tetapi juga mengampuni. Ia tidak akan cenderung pada kebohongan; ia akan waspada agar selalu mengucapkan kebenaran. Ia akan tetap tenang, tidak tergoyahkan oleh hawa nafsu, ketamakan, kemarahan, dan kesombongan. Ia akan bebas dari khayal.  Ia akan selalu mencari hal-hal yang bermanfaat untuk kesejahteraan dunia. Dari pikiran dan rasa hati semacam itu, arus kasih akan mengalir tanpa henti.


Karakter yang Tenang akan Menang

Bila pikiran serta rasa hati semacam ini matang dan mencapai keberhasilan, dengan mudahnya ia akan bebas dari segala sifat, menjadi tenang dan murni. Dengan mudah ia akan lebur dalam Ātma Yang Maha Esa.

Setiap manusia mempunyai kesempatan unik untuk mengecap kedamaian batin yang ditimbulkan oleh pikiran, perasaan, dan ingatan semacam itu, tetapi sayangnya, sebagian besar orang tidak mengenal sukacita dan ketenangan hati yang merupakan haknya sejak dilahirkan. Meditasi adalah satu-satunya pulau tempat berlindung bagi segala makhluk yang diombang-ambingkan oleh gelombang keinginan, keraguan, ketakutan, dan keputusasaan di tengah samudra kehidupan. Kebenaran Vedānta harus diingat, walaupun manusia sedang melayani dunia lahiriah (viṣaya)! Bayangkan keadaan dunia ini ratusan ribu tahun yang lalu. Pada waktu itu, di bola bumi ini hanya ada dua pemandangan. Di satu tempat lahar menyala-nyala yang tercurah dari berbagai gunung berapi serta aneka celah yang merupakan retak-retak di permukaan bumi. Aliran yang membinasakan turun ke segala penjuru dan menebarkan ketakutan serta kematian ke wilayah sekelilingnya, seakan-akan kiamat telah tiba. Di tempat lain, molekul-molekul kehidupan yang sulit dilihat, amuba yang sangat kecil, terapung di atas air atau melekat pada celah-celah di antara bebatuan, mempertahankan percikan kehidupan hingga selamat dan terlindung dengan baik.

Dari keduanya, yang satu gemuruh dan cemerlang, lainnya tenang dan terpencil, mana yang kalian andalkan? Pada saat itu jelas tak seorangpun akan percaya bahwa masa depan yang baik berada di pihak amuba atau makhluk mikroskopis ini! Siapa menduga bahwa bintik-bintik kehidupan yang sangat kecil ini akan dapat bertahan melawan serangan lahar cair yang dahsyat dan goncangan-goncangan yang terjadi pada saat permukaan bumi bergolak? Sekalipun demikian, bintik kehidupan atau kesadaran (caitanya) itu tetap bertahan. Amuba itu bertahan menghadapi api dan debu, topan yang menyambar-nyambar, atau air bah yang menenggelamkan. Selanjutnya dalam proses waktu, oleh sekadar kekuatan prinsip kehidupan yang  dikandungnya, ia berkembang dalam kebaikan dan kekuatan watak, dalam seni dan musik, dalam lagu, tarian, kesarjanaan, latihan rohani, dan kemartiran, dalam kesucian, dan bahkan dalam para Avatar Tuhan! Dalam semua ini, didapatlah ringkasan sejarah dunia.

Dalam kekacauan yang berlangsung pada berbagai peristiwa yang tidak terhindarkan, kita lihat kadang-kadang manusia menaruh kepercayaan pada orang-orang yang banyak bicara dan ribut, yang diperbudak oleh nafsu-nafsu mereka sendiri. Tetapi tahap ini akan berlalu, tidak akan bertahan terus. Bila segala sesuatu reda dan tenang, manusia dapat menunggal dalam suasana kesadaran yang tanpa maya; itu adalah tingkat tertinggi yang dapat dicapainya. Kedamaian atau ketenteraman yang dirasakannya di sini, lebih halus daripada segala yang terhalus. la harus naik ke tingkat itu melalui usaha yang dibimbing oleh akal budi, melalui meditasi. Bila penghayatan kedamaian itu sempurna dan lengkap, itu tak lain adalah status ketuhanan, tujuan hidup yang diinginkan. Umumnya manusia tidak berusaha untuk mencapai hal itu karena mereka tidak mengetahui daya tariknya yang agung. Meditasi memberi mereka gambaran pertama mengenai kebahagiaan tersebut.


Meditasi adalah Dasar untuk Pengalaman Spiritual

Karena itu, kini setiap orang harus menguatkan pikiran serta ingatannya dan membuatnya sadar akan saat-saat sukacita kebahagiaan rohani. Bila tidak demikian, ada kemungkinan pikiran dan perasaan hati akan membuang segala usaha yang kini dianggap sebagai ‘kosong’ dan ‘tidak berguna’. Tetapi, sekali ia yakin bahwa saat keselarasan dengan kesadaaran Tuhan (caitanya) merupakan saat kekuatan yang sempurna, diliputi dengan kekuatan Tuhan (śakti), maka usahanya tidak akan mengendur; peminat kehidupan spiritual dapat mencapai kesadaran ātma tanpa rintangan lebih lanjut.

Dengan ideal ini, sejak sekarang  lakukan  meditasi dan pengulang-ulangan nama Tuhan di dalam hati. Setelah meditasi, langkah berikutnya adalah khusyuk sepenuhnya (samādhi). Meditasi adalah tahap yang ke tujuh pada delapan tahap yoga. Jangan meninggalkan jalan yang mudah ini, yang akan membawamu ke tujuan suci tersebut. Meditasi adalah dasar segala latihan rohani (sādhana).