7. Bhakta Sejati Selalu Tenggelam Dalam Tuhan


     Bhakta yang sejati selalu merenungkan Tuhan. Ia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan dan merasakan kesejahteraan atau kecemasannya. Satu- satunya hal yang dipikirkannya hanyalah usaha untuk mencapai Tuhan. Keadaan semacam ini sulit dipahami tanpa contoh. Seorang anak kecil berlari kian kemari dengan ketakutan sambil berteriak-teriak, “Mama, Mama,” mencari ibunya. Sang ibu mengangkatnya lalu meletakkan anak itu di pangkuannya. Si anak berhenti menangis dan tidak merasa takut lagi. Tetapi, dapatkah anak itu memperhitungkan dan menyelidiki perbedaan antara keadaannya sebelum itu dan kelegaannya sekarang? Tidak. Hal itu juga tidak perlu dilakukan.

     Demikian pula orang yang selalu berhasrat mengabdi Tuhan akan tenggelam sepenuhnya dalam tugas dan kegiatan itu bila kesempatan mulia itu tiba. Dalam kehadiran-Nya tidak ada kekhawatiran atau kesusahan yang dapat mengganggunya. Kekhawatiran dan kesusahan hanya mengganggunya hingga tiba saatnya ia mencapai Tuhan. Setelah itu seluruh perhatiannya teralih pada penghayatan (kehadiran Tuhan). Perjuangan dan penderitaan masa lampau terlupakan.

     Karena itu, sādhaka dan bhakta harus mengabaikan serta melupakan segala kesulitan dan kesusahan yang tidak terhitung banyaknya yang pernah dialami, dan memusatkan seluruh pikiran hanya kepada Tuhan. Sibukkan dirimu dalam renungan ini dan dapatkan kegembiraan dari hal ini. Tidak ada ganjaran lain untuk bakti. Bakti merupakan sebab dan juga akibat, mereka satu dan sama. Bakti itu sendiri merupakan kesadaran Tuhan. Kesadaran diri sejati ini juga dapat dicapai dengan jñāna mārga bila tabir kekaburan batin dilenyapkan. Orang yang menempuh jalan bakti tidak memperoleh kegembiraan dari apa pun juga selain Tuhan. Setiap halangan pada jalan kerohanian dapat diatasi dengan cit śakti ‘inteligensi’, tetapi kemampuan ini diperlemah oleh ahaṁkāra ‘perasaan aku adalah orang yang menikmati’ dan mamakāra ‘perasaan kemilikan: barang-barang ini adalah milikku’ dan sebagainya. Selama manusia memiliki rasa keakuan dan kemilikan ini, ia tidak akan mempunyai kepuasan batin yang sejati. Ia terdorong untuk mencari hal-hal yang akan memberinya lebih banyak kegembiraan.