"Aku datang untuk menyalakan pelita Cinta dalam hatimu, untuk melihat pelita itu bersinar dari hari ke hari dengan menambahkan minyak. Aku datang bukan atas nama suatu agama yang eksklusif. Aku tidak datang untuk misi publisitas untuk sebuah sekte atau kepercayaan, juga Aku tidak datang untuk mengumpulkan pengikut untuk sebuah doktrin. Aku tidak punya rencana untuk menarik murid-murid atau pengikut. Aku datang untuk memberitah engkau tentang hal kesatuan bhakti, prinsip spiritual, jalan cinta-kasih, kebajikan cinta-kasih , tugas cinta kasih dan kewajiban dengan dasar cinta kasih."​

-ssspeaks/volume08-

Bagi para aspiran spiritual, Beliau adalah Master yang luar biasa; bagi seorang rasionalis, Bhagawan (atau Baba atau Swami; demikian Beliau sering dipanggil) adalah seorang humanitarian tulen yang ada di atas muka bumi ini; sementara bagi ribuan youth/pemuda, Baba adalah pemimpin dengan pandangan/visi yang dinamis dan sumber inspirasi; bagi seorang bhakta, Swami adalah sosok suci nan agung; dan bagi semua insan manusia yang memiliki kesempatan untuk melihat-Nya, Bhagawan adalah cinta-kasih murni yang berjalan di atas kedua kaki.

Misi dan pesan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba antara lain adalah untuk membangkitkan kesadaran tertinggi yang ada di dalam setiap orang, yaitu bahwa di dalam diri mereka masing-masing terkandung benih-benih Divinitas (Ke-Ilahi-an) yang berpotensi untuk direalisasikan dalam proses kehidupan ini. Itulah sebabnya, di dalam setiap awal wacana-Nya, Bhagawan Baba sering menyebut para hadirin dengan sebutan, “Perwujudan Atma” (Atma diartikan sebagai percikan Ilahi/Divinitas). Bagi siapapun juga yang pernah mendengarkan-Nya, mengalami sendiri cinta-kasih-Nya yang tanpa syarat, memetik manfaat dari nasehatnya yang penuh perhatian serta menyaksikan sendiri supremasi-Nya atas batin dan materi, maka yang bersangkutan sebenarnya telah menjadi saksi betapa tak terbatasnya potensi yang telah diwariskan dan terpendam di dalam diri setiap manusia.

Kelahiran dan masa kecil-Nya

Sri Sathya Sai Baba terlahir dengan nama Sathyanarayana Raju, pada tanggal 23 Nopember 1926, di sebuah desa kecil bernama Puttaparthi, di negara bagian Andhra Pradesh, India Selatan. Bahkan sejak masa kecil-Nya, kecondongan spiritual serta sifat kontemplatif-Nya memang sudah berbeda dibanding anak-anak seusia-Nya, sehingga di antara teman-teman serta penduduk desa, Baba sering dikenal sebagai ‘Guru’ atau ‘Brahmajnani’ (seseorang yang mengenali Brahman atau Tuhan).

Baru kemudian pada tanggal 20 Oktober 1040, Baba membuat sebuah deklarasi historis tentang misi kehadiran-Nya, yakni untuk menyadarkan umat manusia tentang sifat ke-Tuhan-an yang laten ada di dalam diri setiap orang.

 

Tujuan dari kelahiran-Nya

Hari ini, jutaan orang dari segenap penjuru dunia, yang berasal dari beraneka-ragam latar-belakang keyakinan dan dari berbagi profesi kehidupan, memberi penghormatan kepada Bhagawan Baba sebagai Guru Agung, yang juga merupakan reinkarnasi Guru Suci abad sebelumnya, yaitu Shirdi Sai Baba. Ribuan orang berkumpul setiap harinya di Prasanthi Nilayam, pusat spiritual yang didirikan di desa Puttaparthi, guna memperoleh darshan (penampakan wujud), ketika Swami berjalan di tengah-tengah para bhakta, memberikan berkah serta memberi semangat kehidupan melalui nasehat dan hiburan spiritual.

Sai Baba mengatakan bahwa maksud kedatangan Beliau adalah untuk menegakkan kembali ritme kebajikan di dunia ini serta memperbaiki jalan

bebas hambatan kepada Tuhan, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh para suci dari zaman dahulu; namun belakangan ini mengalami kemuduran secara sistematis. Dalam kata-kata-Nya:

“Sai ini telah datang untuk menjalankan tugas suci, yaitu mempersatukan keseluruhan umat manusia sebagai satu keluarga melalui ikatan persaudaraan, memberikan penekanan dan pencerahan dalam hal realitas Atma dari setiap insan, membeberkan Divinitas yang menjadi dasar dari keseluruhan alam semesta/kosmos serta memberi instruksi kepada semuanya, agar dapat mengenali warisan laten yang menjadi tali pengikat antar manusia, sehingga umat manusia dapat melepaskan dirinya dari sifat hewaniah dan merangkatk ke atas menuju ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu sifat laten ke-Tuhan-an yang ada di dalam dirinya, yang sekaligus merupakan tujuan akhir dari kehidupan ini.”

Misi Mulia-Nya

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba adalah manifestasi terpadu yang mengkombinasikan dua peran penting.

Pertama, Beliau adalah Master spiritual yang luar biasa, Beliau sangat fasih dalam memaparkan kebenaran spiritual terdalam dengan cara yang sangat sederhana dan menarik; pemaparan-Nya menmbentuk ajaran-ajaran fundamental dari seluruh ajaran-ajaran agama yang ada di dunia ini.

 

Rumusan sederhana Bhagawan bagi umat manusia agar menuntun jalan kehidupan yang berarti, terkandung dalam jalan beruas lima sebagai berikut:

Sathya (Truth),

Kebenaran,

Dharma (Righteousness),

Kebajikan,

Shanthi (Peace),

Kedamaian,

Prema (Love), and

Cinta-Kasih, dan

Ahimsa (Non-Violence)

Tanpa Kekerasan.

“Cinta-kasih terhadap Tuhan, takut untuk berbuat dosa serta moralitas dalam masyarakat” – inilah resep yang diberikan oleh Baba untuk dunia kita yang sedang sakit ini.

Kedua, Bhagawan bagaikan waduk tanpa batas yang berisikan cinta-kasih murni. Dari sekian banyak proyek-proyek pelayanan yang diprakarsai oleh-Nya, baik itu berupa rumah-sakit gratis, sekolah dan perguruan tinggi gratis, proyek penyediaan air minum gratis maupun proyek perumahan gratis, semuanya itu merupakan tonggak saksi atas cinta-kasih Baba yang tanpa pamrih dan welas-asih-Nya terhadap mereka yang membutuhkan dan kurang beruntung. Sesuai dengan deklarasi-Nya, bahwa “Kehidupan-Ku adalah pesan-pean-Ku” , Bhagawan telah memberi inspirasi dan terus menjadi inspirator bagi jutaan bhakta-Nya di seluruh dunia, yaitu melalui contoh suri teladan-Nya sendiri, telah menghidupi idealisme bahwa ‘Pelayanan kepada manusia adalah pelayanan kepada Tuhan.’

 

 

Organisasi Pelayanan Sri Sathya Sai hari ini mempunyai kepanjangan tangan di ratusan negara di dunia, dan para anggota-nya melakukan serangkaian kegiatan pelayanan yang memberi manfaat untuk anggota masyarakat masing-masing. Dan yang terpenting adalah bahwa semuanya itu dilakukan secara tanpa pamrih dan spontan.

Bhagawan Sri Sathya Sai Baba telah muncul sebagai lentera yang memberikan harapan bagi dunia yang sedang mencari-cari upaya untuk mengakhiri kegelisahan dan kesedihan yang sedang memuncak dewasa ini. Pesan Beliau berupa “Cintailah Semua, Layanilah Semua – Bantulah selalu, janganlah menyakiti” adalah bagaikan obat spiritual yang akan menuntun umat manusia dari kepedihan kegelapan dan kebodohan batin, menuju kepada pelita dan kebahagiaan abadi.

Bahwasanya, sekali dalam rentang waktu millenium, sosok berjiwa Agung seperti ini akan muncul di atas muka bumi ini. Bagi kita, dan juga bagi segenap umat manusia, walaupun awan gelap bergelantungan di atas horison dunia dewasa ini, namun masih tetap ada secercah cahaya keemasan. Jikalau kita bisa memanfaatkan kesempatan langka ini, maka kedamaian dan keharmonisan dunia tidak lagi menjadi sekedar utopia belaka. Ia akan menjadi nyata dan universal, bagaikan mentari yang terbit di pagi hari.