Peristiwa  ini terjadi pada tahun 1970. Ketika mendengar tentang kemuliaan Bhagawan Baba, Sri 108 Swami Virajananda Maharaj ( sekarang usianya sudah lebih dari seratus tahun ) tiba di Prashanti Nilayam dari Kashi. Ia diiringi oleh 15 sampai 20 orang muridnya. Setelah tinggal di ashram selama kira-kira dua puluh hari, ia mempunyai pendapat tentang Baba sebagai berikut, “Sri Sathya Sai Baba adalah Avatar untuk orang asing dan bakta yang kaya. Dia bukan perwujudan kasih, karena jika demikian, Beliau akan memperlakukan setiap orang secara sama.” Apa sebabnya ia berpendapat seperti ini?​

Selama tinggal dua puluh hari itu, Bhagawan Baba telah mengabaikannya sama sekali, maka Swami Virajaanandji memutuskan untuk meninggalkan Prashanti Nilayam dan melakukan perjalanan kembali ke Dharmavaram. Malam itu mereka memutuskan untuk bermalam di Dharmavaram. Ia beristirahat di dalam kamar dan para muridnya di kamar sebelah. Setelah beberapa waktu, ada orang yang mengetuk pintu dan berkata, “Bolehkan saya masuk?” Orang itu diizinkan masuk. Ia mengajukan permohonan dengan rendah hati, “Swamiji, Bhagawan Baba telah mengutus saya ke sini untuk membawa Anda ke Puttaparti.” Virajaanandji marah dan berkata, “Saya tidak mau datang. Beliau adalah Avatar untuk orang kaya. Beliau bukan perwujudan kasih seperti yang Beliau nyatakan.” Orang itu mendesak, “Saya sudah membawa mobil dan saya tidak akan pergi dari sini, jika Anda tidak pergi dengan saya.” Akhirnya Virajaanandji tidak punya pilihan lain, dan ia pun ikut bersama utusan tersebut. Ketika meeka tiba di Prashanti Nilayam, Bhagawan memanggilnya ke lantai satu. Virajanandji  baru akan mengucapkan komentar yang menghina, tetapi Baba menghentikannya dan berkata, “Pertama, mari kita makan, kemudian engkau bisa bertanya apa pun yang ingin kautanyakan.” Setelah makan, Bhagawan Baba memperlihatkan telapak tangan kanan Beliau kepada Swami Virajaanandji. Ketika melihat telapak tangan itu Virajaananda berkeringat. Ia kebingungan.

Apa yang dilihatnya di telapak tangan Bhagawan? Ia melihat semua siswa dan ashramnya di Kashi dalam telapak tangan itu. Pada saat yang bersamaan ia dapat mendengar Baba berkata, “Kasih, kasih, kasih! Apakah kasih?  Apakah kaukira engkau bisa mencapai kesadaran diri sejati dengan meninggalkan keluargamu dan mengumpulkan ribuan pengikut? Sesungguhnya engkau jauh dari itu. Ini adalah mooha ‘ketergila-gilaan’. Hanya bakti dan kasih dapat membawamu lebih dekat kepada Tuhan. Keinginan dan  ketenaran duniawi tidak bisa membawamu lebih dekat kepada Tuhan.”

Ketika mendengar kata-kata Bhagawan, Swami Virajaanandji menyadari kesalahannya. Ia memegang kaki Bhagawan Baba dan mohon izin Beliau untuk pulang. Baba berkata, “Tunggu sebentar.” Virajaananda duduk. Sesaat ia merasa mengantuk. Ketika membuka mata, ia sadar bahwa ia telah kembali ke kamarnya di Dharmavaram. Ia tidak bisa mengerti bagaimana dalam sekejap ia telah sampai di sana. Ia bermeditasi pada kaki Bhagawan yang suci dan menyadari bahwa semua ini tak lain adalah permainan Bhagawan.

 

Dari: Sri Sathya Sai Kalpadruma

Diterjemahkan oleh: Susianti

Dengan izin Pemegang Hak Cipta: Shri Prashant Prabhakar Palekar