JADILAH SEPERTI SEORANG ANAK KECIL


Tidak mungkin mendengar wacana Baba atau membaca tulisan Beliau tanpa memperhatikan bahwa Beliau terus  menerus berbicara tentang kasih. Beliau berkata, “Kasih tidak dapat diabaikan.” Bakta Beliau diberi tahu, “Kasih adalah jalan yang mudah menuju Tuhan.” Ajaran Beliau menyatakan, “Tuhan adalah kasih dan kasih adalah Tuhan.” Beliau menyebut hadirin sebagai perwujudan kasih. Beliau mengatakan, bila diri sejati disadari, maka kasih yang merupakan kenyataan diri sejati, tidak berbeda dengan kasih yaitu Tuhan.

Merupakan pengalaman kaum ibu di seluruh dunia bahwa seorang anak yang masih kecil sekali, jika dicintai dan dilindungi, akan menjadi perwujudan kasih, dan ini akan memberikan kegembiraan yang sangat besar serta tanpa akhir kepada para ibu. Kasih adalah sifat sejati anak kecil yang tulus dan spontan. Kasih yang spontan dan wajar ini menjadi diubah oleh sifat duniawi ketika si anak tumbuh lebih dewasa dan dunia menjadi bagian dari kesadarannya. Namun, hal ini tidak mengingkari fakta bahwa sifat anak yang spontan tampak jelas sebagai kasih. Bakta Tuhan harus menjadi seperti anak kecil, dengan Tuhan sebagai Ibu, dan kasih mengalir sepenuhnya dari hati sang bakta—tanpa halangan—menuju Ibu Jagat Raya. Kasih yang terbuka, bebas, tanpa batas, dan dengan spontan memeluk Ibu Jagat Raya adalah bakti kepada Tuhan. Anak kecil yang merupakan perwujudan kasih, akan penuh kebahagiaan. Dapat kita lihat bahwa di dalam kasih, anak berada dalam kegembiraan yang tak terhingga.

Kita merindukan sukacita, kegembiraan yang tak terhingga, dan kebahagiaan. Untuk itu kita bersedia membayar dengan harga berapa saja. Namun, semua itu dengan sendirinya akan menjadi milik kita, bila kita menunggal dengan Tuhan dalam kasih yang terbuka dan bebas. Baba memberitahu kita bahwa bisa saja orang bisa terlalu saling mencintai dalam hubungan antar pribadi, dan terlalu saling mencintai dalam hubungan antar pribadi ini bisa bersifat merusak, tetapi kasih kepada Tuhan sama sekali tidak berbahaya dan bisa dilimpahkan secara bebas.

Untuk mengenal diri sejati, kita harus menjadi diri sejati. Untuk mengenal Tuhan, kita harus menjadi Tuhan (menunggal dengan kesadaran Tuhan), bukan hanya sekadar mengamati-Nya. Yang sejenis dapat menunggal dengan yang sejenis, tetapi yang tidak sama tidak bisa menunggal. Api menunggal dengan api, tetapi tidak menyatu dengan lautan. Dengan sabar Baba menjelaskan bahwa Tuhan adalah kasih, dan bila kita ingin menghayati diri kita sebagai (perwujudan) Tuhan, kita harus menghayati diri kita sebagai kasih. Hanya dalam kasih kita bisa menyadari Tuhan dan dengan demikian bisa menunggal dengan-Nya.

Karena kita berminat mengubah kehidupan duniawi kita menjadi kehidupan spiritual, dan  melenyapkan  selubung yang menyembunyikan kenyataan diri sejati kita, maka kita sangat memperhatikan apa yang dikatakan Baba mengenai pentingnya kasih. Bagaimana hati kita bisa menyalakan lagi, atau membebaskan nyala kasih yang murni dari segala hambatan, sehingga bisa kembali seperti keadaan kita semula yang penuh kasih pada masa kanak-kanak? Bhagawan Baba meyakinkan kita bahwa tidak pernah terlalu terlambat untuk mengarahkan kasih kita kepada Tuhan yang selalu bersemayam di dalam hati kita. Baba berkata, walaupun Tuhan selalu berada di latar belakang, meninggalkan panggung (pentas kehidupan) untuk ego kita, Tuhan selalu siap menanggapi jika kita panggil.

Walaupun Baba menasihati bahwa akan bermanfaat bila kita membuka hati kepada Tuhan dan mengasihi Beliau dengan sepenuh hati, itu tidak berarti bahwa keluarga dan orang-orang yang dekat dengan kita lalu tidak kita cintai. Baba menunjukkan bahwa kini kita mempunyai banyak sekali cinta untuk berbagai orang, berbagai benda, dan aneka kegiatan. Beliau menasihatkan agar kita menggabungkan semua aliran cinta yang kecil-kecil ini menjadi satu sungai yang penuh dan mengalir deras, serta mengasihi Tuhan dengan kasih yang sepenuhnya ini. Untuk menjelaskan ini, Baba menggunakan perumpamaan sebatang pohon di kebun kita. Kita lihat daunnya layu dan mengering, kita langsung merasa iba. Kita mengambil selang, memasangnya, dan menyemprotkan air yang memberikan kehidupan ke daun-daun pohon itu, tetapi mereka tidak bereaksi, mereka tidak mendapat manfaat dari air itu. Namun, bila kita bukannya menyemproti daun dengan air, tetapi mengairi akar pohon itu, maka air yang memberi kehidupan dengan cepat menemukan jalannya ke batang, cabang, daun, bunga, dan buah. Demikian pula, bila kita mengumpulkan segenap cinta kita dan mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, maka keluarga dan teman-teman kita pun dengan sendirinya pasti akan menerima kasih yang mereka butuhkan.

Kasih yang murni dan spontan yang merupakan sifat kita semasa kanak-kanak tidak dihancurkan dan direnggut dari diri kita oleh dunia; kasih itu hanya dikaburkan oleh maya, oleh sifat keduniawian kita. Bayangan dunia tidak akan tetap tinggal, jika kita memberikan hati dan perasaan kita kepada Baba dan ajaran Beliau yang suci.

Biarlah Kuberitahukan satu hal kepadamu. Bagaimanapun ke- adaan dirimu, engkau milik-Ku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Di mana pun engkau berada, engkau dekat dengan-Ku; engkau tidak bisa berada di luar jangkauan-Ku.