MEDITASI


Meditasi, suatu latihan yang berkaitan dengan dunia batin seseorang, kini dikenal oleh jutaan orang di negara-negara Barat. Baba menjelaskan meditasi sebagai berikut. “Meditasi yang benar adalah menunggalnya segenap pikiran dan perasaan dengan Tuhan. Orang yang ahli dalam meditasi ini sangat langka. Kebanyakan orang hanya melakukan latihan lahiriah saja. Karena itu, mereka tidak berhasil mendapatkan karunia Tuhan.”

Biasanya orang berbicara tentang meditasi dalam kaitannya dengan tempat untuk bermeditasi, bagaimana cara duduk, apa yang harus dilakukan, dan berapa lama. Ini hanya awalnya. Hasil meditasi adalah keadaan yang disebut sahaja avastha yaitu segala perbuatan orang itu timbul dari kesadaran Tuhan dan bukan dari pikirannya. Duduk bermeditasi hanyalah suatu awal. Baba memberi tahu kita bahwa kewaspadaan mental untuk memantau drama batin kita harus menjadi disiplin sepanjang hari bagi orang yang memutuskan untuk menempuh kehidupan spiritual.

Meditasi dapat diibaratkan dengan pembuatan perahu, katakanlah, yang dapat membawa kita dengan selamat meng- arungi lautan kehidupan duniawi yang penuh pergolakan, menuju ke pantai seberang. Yang dimaksud dengan seberang adalah kesadaran diri sejati, kesadaran Tuhan, kebebasan, pelepasan, pencerahan, nirvana. Semua kata semacam itu mempunyai arti yang sama. Semua itu berarti menunggalnya (kesadaran) yang individu ke dalam (kesadaran) yang mutlak (Tuhan).

Kita perlu mengingat bahwa meditasi berarti menunggalnya yang khusus ke dalam yang mutlak. Baba menyatakan, “Jika eksistenti itu mutlak, itu baik. Jika dikhususkan, itu salah. Itulah kebenaran seluruhnya.” Menunggal dengan (kesadaran) yang mutlak berarti mem- buang tabir kebodohan. Yang dimaksud dengan kebodohan yaitu kekeliruan persepsi sehingga manusia mengira bahwa ada eksistensi yang berbeda-beda dan saling terpisah, sedangkan kenyataannya adalah sebaliknya, yaitu hanya ada satu eksistensi. Jadi sesungguhnya meditasi bukanlah latihan untuk mencapai sesuatu yang baru, walaupun ini melibatkan kegiatan dengan tujuan yang tertentu.

Menunggalnya yang khusus, kasat mata, dan dapat dilu- kiskan ke dalam kemutlakan yang tidak terlihat dan tidak dapat dilukiskan tidak akan bisa terjadi jika yang khusus tidak sama hakikatnya dengan yang mutlak. Misalnya, sebentuk cincin yang terbuat dari emas murni bisa dilemparkan ke dalam tempat peleburan bersama patung dari emas murni. Keduanya akan menyatu karena bentuk dan fungsi cincin serta patung yang berbeda akhirnya tidak ada kaitannya, karena sesungguhnya keduanya adalah emas murni yang sama. Baba berkata bahwa individu yang khusus dan Tuhan Yang Mutlak hanya berbeda dalam nama, wujud, dan fungsi. Jika tidak, mereka tidak bisa menunggal, dan meditasi akan menjadi konsep yang tidak dapat dilaksanakan.

Menunggalnya yang khusus dengan yang mutlak, kesa- daran individu dengan Tuhan (kesadaran semesta), bisa dilak- sanakan. Dari zaman dahulu hingga sekarang, kenyataan dan nilainya telah diperlihatkan dalam kehidupan orang-orang  suci yang agung. Tampilnya Yang Mutlak sebagai yang khusus dapat disaksikan dalam kehidupan Avatar. Di dalam diri Avatar, disatukanlah aspek ganda individu yang khusus dan Tuhan Yang Mutlak, dan ini disaksikan oleh semua orang yang beruntung dapat mendekati Avatar yang terberkati, Sri Sathya Sai Baba.

Dengan pertimbangan di atas, akan jelaslah bahwa kata meditasi mencakup segala cara yang dilakukan untuk mele- nyapkan  anggapan  keliru  bahwa Tuhan  dan  hakikat  diri kita sendiri serta hakikat dunia itu tidak sama. Meditasi yang sem- purna disebut sāmadhi.

Teknik-teknik meditasi yang benar itu apa saja? Hanya sedikit yang diketahui, dan tidak diragukan lagi, ada berbagai teknik lain yang diam-diam dipraktekkan dalam konteks berbagai kebu- dayaan, agama, dan kepercayaan. Namun, jangka hidup kita terlalu singkat sehingga tidak ada waktu untuk mengungkap, menyelidiki, dan menguji berbagai teknik meditasi yang luar biasa itu sebelum memilih satu dan menggunakannya untuk berlatih sendiri. Jangka hidup kita lewat tahun demi tahun dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan demikian, dengan pertimbangan akal sehat, kita memusatkan perhatian dan waktu kita yang terbatas pada meditasi yang disarankan oleh Beliau yang kita hormati sebagai guru agung, Yang Mahatahu, Sathya Sai kita yang penuh kasih.

Baba menasihatkan bahwa meditasi yang tertinggi adalah bakti kepada Tuhan dan persatuan langsung dengan Beliau melalui kasih. Kasih di dalam diri kita dan kasih yang merupakan kenyataan-Nya, satu dan sama, tanpa mengindahkan  fungsi  yang sekarang kita gunakan untuk menerapkan kasih itu. Cara mengoyak tabir delusi dibahas sepenuhnya di halaman lain buku ini. Namun, saat ini cukuplah bila dikatakan bahwa cara untuk menunggalnya yang khusus (jiwa atau kesadaran individu) ke dalam yang mutlak (Tuhan atau kesadaran universal) melalui bakti atau kasih kepada Tuhan ini tidak mengurangi nilai teknik–teknik meditasi tradisional.

Baba memberitahu kita bagaimana cara melakukan duduk bermeditasi yang terbaik, dan  juga  memberi  peringatan yang sangat tegas, bahkan keras, tentang beberapa bahaya. Pertama tentang peringatan Beliau. Selama berabad-abad ber- bagai cara meditasi telah diketahui dan dipraktekkan. Tidak diragukan, setiap teknik meditasi itu berhasil pada zamannya, dan pasti banyak manusia secara berturut-turut tiada akhirnya menggunakan teknik meditasi tersebut dan berhasil bebas dari delusi serta ilusi. Kata pada zamannya adalah bagian kalimat yang penting. ”Pada zamannya” pada dasarnya berarti adanya seorang guru yang masih hidup, yang mengetahui sepenuhnya teknik mditasi itu, dan dengan meditasi tersebut ia sudah mendapat kesadaran diri sejati sepenuhnya. Dengan demikian ia mampu dan berwewenang sepenuhnya untuk membimbing bermacam-macam orang hingga berhasil dalam teknik meditasi tersebut. Baba tidak menyalahkan satu pun di antara berbagai teknik meditasi kuno itu, termasuk cara-cara yang hingga kini masih diketahui orang banyak. Beliau tidak mengatakan bahwa teknik-teknik meditasi tersebut jelek atau salah. Akan tetapi, dengan sungguh-sungguh Beliau berkata bahwa dewasa ini tidak ada satu pun di antara berbagai teknik meditasi kuno yang ampuh itu mempunyai guru yang masih hidup, yang mampu dan berwewenang sepenuhnya untuk membimbing orang- orang yang mempraktekkannya. Para pembimbingnya belum mencapai kesadaran diri sejati dalam meditasi yang mereka ajarkan; mereka tidak mengetahui segala aspek meditasi itu sepenuhnya.

Beberapa orang yang melakukan meditasi mungkin ber- sifat tenang, mempunyai akal sehat yang baik, dan tidak ber- kecenderungan sulit. Orang-orang semacam ini—yang tidak banyak jumlahnya—mungkin dapat melakukan meditasi dan untuk sementara waktu tidak mendapat kesulitan. Namun, dalam meditasi yang penuh kekuatan dan potensi yang tidak diketahui, orang yang bermeditasi itu bisa dikatakan menyusuri jalan setapak yang sempit sekali dan sulit ditempuh. Kehilangan keseimbangan dalam meditasi dan jatuh akan mengakibatkan bencana dalam kehidupan orang tersebut. Baba berkomentar, “Hidupmu tinggal beberapa tahun lagi. Mengapa menempuh resiko ini?” Nasihat Beliau untuk kehidupan spiritual adalah, “Mulailah lebih awal, tempuh perjalanan dengan hati-hati, dan tibalah dengan selamat.” Orang-orang yang memutuskan untuk meneruskan meditasi yang sudah mereka lakukan sebaiknya mempersembahkan kegiatan itu kepada Baba dan memohon bimbingan serta perlindungan Beliau. Kita berhak melakukan hal itu, dan bila kita mendekati Baba dengan kasih dan percaya, karunia Beliau tidak akan ditahan.

Baba memberi tahu kita bahwa pada zaman ini hanya Tuhanlah pembimbing yang sejati dan aman. Beliau berkata bahwa pada zaman ini hanya ada satu cara meditasi yang baik dan aman yaitu teknik kuno untuk bermeditasi pada cahaya. Ini disebut meditasi jyoti. Meditasi kuno dengan cahaya ini aman, efektif, dan pelaksanaannya akan mendatangkan keberhasilan. Baba memberi tahu kita bahwa Beliau sendiri akan menjadi pembimbing batin dalam meditasi ini, jika kita memanggil Beliau.

Untuk memulai meditasi jyoti, pertama kita harus berdoa kepada Tuhan agar menerima dan membimbing meditasi tersebut. Kita harus duduk dalam posisi yang enak, tulang punggung lurus, dan terus menatap nyala lilin dengan mata setengah terpejam. Teruskan hingga napas menjadi tenang dan perlahan. Lanjutkan hingga nyala lilin benar-benar kelihatan di dalam hati bila mata dipejamkan. Gerakkan nyala yang murni ini, yang sekarang terlihat dengan jelas, ke seluruh bagian tubuh. Bila kotoran atau ketidakmurnian tersentuh oleh nyala api itu, ketidakmurnian tersebut lenyap karena tidak bisa bertahan dalam cahaya yang murni. Sekarang pindahkan nyala api itu dari tubuh; pertama ke anggota keluarga, kemudian ke teman- teman, kenalan, musuh, dan akhirnya biarkan sifatnya yang baik memberkati seluruh alam semesta. Bawalah nyala api itu kembali ke dalam badan dan letakkan di hati. Duduklah dengan tenang selama beberapa saat, ucapkan doa terima kasih kepada Tuhan, kemudian teruskan pekerjaanmu sehari-hari.

Latihan baik yang disarankan oleh Baba yaitu menye- mayamkan wujud Tuhan yang paling kita kasihi dalam jyoti tersebut. Dua langkah pertama dalam meditasi jyoti yang baru diterangkan disebut konsentrasi dan kontemplasi. Itu adalah pendahuluan dan satu-satunya langkah yang bisa dibimbing oleh pikiran. Kontemplasi adalah mengarahkan jyoti dari yang khusus menuju yang universal. Nyala api ini dipindahkan dari badan kita yang khusus menuju orang atau semua lainnya, baik dekat maupun jauh. Batasan tubuh kita hilang dari pertimbangan, dan perhatian kita meluas tanpa batas hingga meliputi seluruh alam semesta. Ketika sedang bermeditasi, Swami Vivekānanda yang agung terdengar berseru, “Di mana tubuhku? Aku tidak dapat menemukan tubuhku!” Sedemikianlah ekspansi kesadaran Swami Vivekānanda yang sebelumnya terbatas.

Untuk memulai meditasi dengan memusatkan perhatian yang biasanya terpecah-pecah menjadi satu konsentrasi, diperlukan objek konsentrasi sebagai fokus pemusatan pikiran. Langkah pertama ini adalah faktor yang umum dalam teknik meditasi. Misalnya di dalam Buddhisme disebutkan dan dije- laskan lebih dari empat puluh objek yang dapat diterima untuk konsentrasi. Baba memberi tahu kita bahwa jyoti adalah objek konsentrasi yang terbaik.

Langkah ketiga dan terakhir dalam latihan meditasi ini terjadi bila yang khusus lenyap dalam yang universal. Kesadaran diri sebagai individu hilang dan hanya Tuhan yang ada. Latihan meditasi tahap ketiga ini melampaui indra, pikiran, serta perasaan, dan tidak bisa dicapai dengan kehendak pikiran. Tahap ini hanya bisa dicapai dengan karunia Tuhan. Pikiran dan perasaan dimurnikan dengan latihan ini. Pikiran tidak melantur dari gagasan yang satu ke gagasan yang lain, dari keinginan yang satu ke keinginan yang lain, tetapi waspada dan terpusat. Kemudian, dalam sekejap, tibalah waktunya, lalu orang yang bermeditasi, proses meditasi, dan objek konsentrasinya lenyap, dan hanya Tuhan yang ada. Hanya tahap terakhir inilah yang disebut meditasi. Setelah beberapa waktu, pikiran yang biasa mengenali kembali dirinya, dan meditasi berakhir.

Baba memberitahu kita, ada beberapa keadaan yang berguna agar duduk meditasi kita setiap hari dapat dimulai dengan lancar. Pagi-pagi benar, mulai dari pukul 3.00 itu bagus karena pada waktu itu semua masih hening dan tenang. Akan tetapi, tidak semua orang bisa bermeditasi pada pukul 3 pagi, dan ketentuan waktu ini sesungguhnya tidak perlu untuk bermeditasi. Janganlah kita duduk langsung di atas tanah, tetapi harus menaruh suatu sekat agar tubuh kita tidak terkena arus yang bergerak di bumi secara alami. Baik dilakukan di dalam kamar yang suhunya tidak terlalu panas atau pun dingin, dan syal dari wol yang tipis diselubungkan di bahu. Sebaiknya setiap hari meditasi dilakukan di tempat dan waktu yang sama. Dengan bergurau Swami berkata bahwa lebih baik bagi Tuhan bila Beliau tahu waktu dan tempat perjanjian. Jika sedang dalam perjalanan, teruslah bermeditasi pada waktu yang sama, dan bayangkan serta rasakan bahwa Anda duduk di tempat yang biasa. Mengenai lamanya waktu yang disediakan untuk latihan meditasi, tidak ada ketentuan, tetapi antara dua puluh menit hingga setengah jam akan cukup untuk para pemula.

Sejak zaman dahulu peminat kehidupan spiritual dinasihati agar melakukan latihan meditasi. Baba berkomentar, “Pikiran cenderung mengumpulkan pengalaman dan menyimpannya dalam ingatan. Pikiran tidak mengerti cara menghentikan atau melepaskan. Tidak ada yang dibuang dari pikiran. Bahkan tidak ada jarak dari pikiran yang satu ke pikiran yang lain. Rangkaian pikiran yang terus berlangsung ini tidak ada urutan atau kaitan-nya. Meditasi adalah nama untuk istirahat sejenak yang kita berikan kepada pikiran yang sibuk dan suka melantur.