27. Karakter yang Baik adalah Permata Kehidupan Manusia


     Sewaktu masih berada dalam badan ini, sebelum maut merenggut, engkau harus menyadari kebenaran abadi dan hubungan antara manusia dengan kebenaran tersebut. Kitab suci Kathopaniṣad mengimbau, “Bangunlah! Bangkitlah! Carilah guru-guru spiritual agung yang telah mencapai penerangan batin dan belajarlah dari mereka!” Kalian yang diresahkan oleh keraguan mengenai apa yang harus diterima dan apa yang harus ditolak; kalian yang dikaburkan oleh māyā; kalian yang tidak dapat membedakan antara kegelapan dan terang, atau kematian dan kekekalan, kalian semua, dengarkan. Carilah pribadi agung yang dapat menunjukkan padamu jalan untuk memahami kebenaran abadi, sumber penerangan yang merupakan dasar segala ciptaan! Kemudian dunia dan surga, keduanya akan lebur dalam kecemerlangan yang sama!

     Untuk mencapai kesadaran ini, engkau harus memiliki kerinduan yang mendalam dan melakukan latihan spiritual yang keras dan berdisiplin. Kelahiran sebagai manusia ini pun merupakan ganjaran dari perbuatan baik yang tidak terhitung jumlahnya dan haruslah tidak disia-siakan. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebagaimana kitab Kenopaniṣad mengatakan, “Permata dalam genggaman haruslah tidak dibuang.” Bila ada banyak kesempatan untuk menyelamatkan dirimu, bukankah merupakan kerugian yang tragis bila engkau tidak pernah memikirkan caranya? Ada di antara kalian yang sungguh-sungguh hewan dalam wujud manusia. Mereka adalah budak kesombongan dan sifat hewani. Sangat pentinglah bila orang-orang semacam itu menyadari hal ini pada waktunya dan mengambil suatu tindakan, karena jika ditunda-tunda, jelas tidak ada gunanya. Sesungguhnya penundaan bahkan sama tololnya seperti orang yang mulai menggali sumur ketika rumahnya telah terbakar. Karena itu, orang yang arif akan berusaha sekuat tenaga untuk memahami prinsip pokok yang mendasari. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya ia akan berusaha memahami ajaran guru-guru agung yang telah menempuh jalan spiritual dan berusaha sedapat mungkin menghayati hal tersebut. Bila engkau tidak melakukan usaha ini, mengabaikan jalan spiritual, dan menyia-nyiakan hidupmu, engkau merendahkan martabat manusia! Janganlah engkau diperbudak oleh hal-hal yang cepat berlalu dan tidak benar. Jangan kausia-siakan waktu yang berharga untuk mengejar hal-hal tersebut. Sebaliknya, gunakan setiap menit waktumu untuk menemukan kebenaran, untuk merenungkan Tuhan Yang Abadi dan Mahabesar. Pengabdian seperti ini adalah fungsi jiwa yang sesungguhnya. Bila engkau menghabiskan waktumu untuk memenuhi selera nafsu yang bersifat māyā, engkau menyerah pada renggutan dunia. Jangan biarkan dirimu menjadi korban daya tarik kemewahan dunia yang beracun, atau bujukan kecantikan yang menggiurkan. Pada suatu hari semua daya tarik indra yang mempesona ini akan lenyap bagaikan kenangan suatu pengalaman dalam mimpi !

     Apa pun yang terjadi pada manusia, pendidikan dan sebagainya, yang membuatnya tumbuh dan menjadi besar, semua itu tidak berguna untuk kemajuan rohaninya. Hal itu hanya mendatangkan kejatuhan spiritualnya. Itulah sebabnya dunia ini adalah māyā. Tetapi, cahaya kebenaran akan bersinar terang, tidak menjadi soal betapa dalamnya ia terbenam dalam khayal keduniawian. Itulah sifat kebenaran. Dunia objektif ini setiap menit berubah, pasang, surut, muncul, dan lenyap berganti-ganti. Bagaimana kita dapat menganggapnya sebagai kebenaran abadi? Karena itu, ciri khas seorang sādhaka adalah usaha untuk mencapai​ kebenaran, bukannya mencari hal-hal yang tidak nyata dalam dunia yang fana ini. Dalam dunia yang bersifat māyā ini, engkau tidak dapat menghayati eksistensi yang sesungguhnya. Yang ada hanya kehidupan yang tidak nyata. Eksistensi yang benar, hidup yang benar adalah keinsafan akan kesadaran Tuhan. Setiap orang harus mengingat hal ini setiap saat dalam hidupnya.