CHINA KATHA 1


TAKHYUL DAN MENIRU SECARA MEMBABI BUTA

 

Pada zaman dahulu setiap rumah di desa penuh dengan persediaan padi berkarung-karung, oleh karenanya tidak dapat dihindarkan lagi. Banyak sekali tikus di setiap rumah. Dalam salah satu rumah semacam itu ada keluarga yang mengadakan upacara Sathyanarayana puja setiap bulan Purnama. Untuk keperluan ini, semalam sebelumnya dikumpulkanlah sejumlah susu dan ghi. Tikus-tikus ini menarik kucing dan sikucing lebih tertarik pada susu dan ghi daripada binatang pengerat yang sudah biasa mereka makan. Oleh karena itu susu dan ghi disimpan di tempat yang tidak dapat dicapai kucing. Tetapi selama perayaan di hari yang suci, susu dan ghi harus siap digunakan, dan diletakkan dalam periuk yang terbuka dekat tempat suci. Itu adalah suatu kesempatan bagi kucing yang suka mencuri. Oleh karena itu tuan rumah menangkap tengkuk kucing itu dan memasukkan ke dalam keranjang yang berat dan di atasnya ditindih batu, sehingga kucing itu tidak dapat mengganggu persembahan yang suci. Setiap bulan Purnama hal itu selalu dilakukan untuk tindakan keamanan dalam sebuah rumah, sehingga anak dan cucunya merasa, baik ada puja atau tidak, setiap bulan purnama harus memenjarakan kucing dalam keranjang yang ditindih batu! Mereka mulai mencari kucing dan dibawa pulang sehingga upacara kucing dan keranjang dapat selalu dilakukan.

Arti dan tujuan yang sebenarnya telah hilang selamanya perjalanan waktu dan generasi berikutnya dibebani dengan kepercayaan bahwa bahaya akan mengancam jika tidak memperlakukan kucing seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka! Dari sesuatu yang amat mengganggu, status kucing naik menjadi sesuatu yang penting. Ini adalah peniruan yang membuta.