CHINA KATHA 1


PIKIRANMU MEMPENGARUHI MAKANAN YANG ENGKAU MASAK

 

Untuk memurnikan hati dan pikiran agar memantulkan kebenaran dengan tepat, yang harus diperhatikan pertama kali yaitu mengenai makanan. Bagi seorang sadhaka ini sungguh suatu soal yang penting. Di Malur, di wilayah Mysore, hiduplah seorang Brahmin yang amat terpelajar. Ia mempunyai seorang istri yang sama salehnya. Ia selalu bersungguh-sungguh melakukan puja dan japadhyana dan terkenal di mana-mana karena kesalehannya. Suatu hari datanglah seorang Sanyasin yang bernama Nityananda ke rumahnya untuk minta sedekah. Brahmin itu merasa senang. Diundangnya rahib itu untuk makan malam keesokan harinya sehingga ia dapat menghormatinya dengan penerimaan yang layak. Dihiasnya pintu rumahnya dengan rangkaian daun dan disiapkannya perjamuan dengan teliti. Tetapi pada jam 11.00 ketidakmunian badan menyebabkan istrinya tidak layak untuk menyiapkan makanan bagi tamu yang dihormati atau pun untuk siapa saja. Seorang tetangga mau membantu memasakkan makanan, maka ia pun diantar ke dapur. Semua berjalan dengan baik dan semua merasa puas. Hanya saja selama makan, sanyasin itu merasa tertekan karena ia dikuasai oleh hasrat untuk mencuri cawan perak yang diletakkan tuan rumah di dekat piringnya. Meskipun ia telah berusaha sekuat tenaganya, gagasan jelek itu menang dan sanyasin itu cepat-cepat pulang sambil menyembunyikan cawan itu di balik lipatan jubahnya. Malam itu ia tidak dapat tidur, karena hati nuraninya amat terganggu. Ia merasa telah membawa aib bagi gurunya dan kepada para Resi yang ia sebut namanya dengan mantra yang ia ucapkan. Ia tidak dapat beristirahat hingga ia berlari kembali ke rumah Brahmin tersebut, menjatuhkan diri di kakinya dan mengembalikan barang itu dengan air mata penyesalan di pipinya. Setiap orang merasa heran, mengapa orang suci semacam itu dapat melakukan perbuatan demikian rendah. Kemudian seseorang mengingatkan bahwa itu mungkin kesalahan yang dipindahkan ke makanan yang dimakannya oleh seseorang yang memasak. Ketika mereka mempelajari riwayat tetangga tersebut, mereka mengetahui bahwa ia adalah seorang pencuri yang tidak pencuri yang tidak dapat diperbaiki lagi! Akibat kontak yang halus, kecenderungan mencuri itu mempengaruhi makanan yang disiapkannya. Itulah sebabnya para sadhaka dinasehati agar hanya makan buah dan umbi-umbian saja jika mereka mencapai suatu tingkatan spiritual tertentu.